Manajemen Perpustakaan

Blog ini merupakan ajang diskusi tentang perpustakaan dan informasi dalam segala aspeknya.

Thursday, October 12, 2006

PEMANFAATAN INTERNET SEBAGAI SUMBER BELAJAR OLEH KOMUNITAS IAIN SUMATERA UTARA

Retno Sayekti, MLIS.

Keywords: academic community, Boolean logic, chating, email, internet use, IT, mailing list, search engine, subject directory, weblog, SCIAT.

Latar Belakang Masalah
Internet adalah media dan sumber informasi yang paling canggih saat ini sebab teknologi ini menawarkan berbagai kemudahan, kecepatan, ketepatan akses dan kemampuan menyediakan berbagai kebutuhan informasi setiap orang, kapan saja, dimana saja dan pada tingkat apa saja. Berbagai informasi yang dapat diperoleh melalui Internet antara lain lapangan pekerjaan, olahraga, seni, belanja, perjalanan, kesehatan, permainan, berita, komunikasi lewat email, mailing list, dan chating, bahkan artikel-artikel ilmiah dalam berbagai disiplin ilmu, dan lain sebagainya. Hampir semua bidang tugas manusia, apapun jenisnya, dapat dicari melalui Internet. Internet sebagai sumber informasi memungkinkan semua orang untuk terus belajar seumur hidup, kapan dan dimanapun serta untuk keperluan apapun. Dan untuk kebutuhan belajar bagi setiap individu, Internet tidak hanya menyediakan fasilitas penelusuran informasi tetapi juga komunikasi.
Pemanfaatan Internet oleh komunitas IAIN Sumatera Utara merupakan indikator:
• Peningkatan “melek teknologi” (technology literacy) komunitas IAIN Sumatera Utara.
• Peningkatan kesadaran pemanfaatan teknologi untuk memenuhi kebutuhan informasi individu.
Penelitian ini berusaha untuk lebih jauh menggali apa sesungguhnya yang terjadi dibalik fenomena yang ada, yaitu bagaimana pola pemanfaatan internet oleh komunitas IAIN Sumatera Utara, dan bagaimana model pengembangan teknologi internet di IAIN Sumatera Utara?
Sehubungan dengan adanya rencana IAIN kedepan untuk mengembangkan akses teknologi Internet ini kepada semua unsur komunitas akademik dengan menyediakan layanan ini pada setiap unit kerja yang ada, dan untuk ini IAIN akan mengalokasikan anggaran yang tidak kecil, maka peneliti berharap bahwa hasil penelitian ini akan memberikan kontribusi yang siginifikan bagi realisasi rencana tersebut. Sekurang-kurangnya hasil temuan penelitian ini nantinya akan memberikan gambaran umum tentang bagaimana pola pemanfaatan internet oleh masyarakat IAIN-SU dalam memanfaatkan Internet.
Adapun yang menjadi fokus penelitian ini adalah melihat secara detil tentang pengetahuan, keterampilan, serta pandangan masyarakat IAIN-SU dalam menelusur informasi dan memanfaatkan fasilitas komunikasi dari Internet. Dari sini peneliti menawarkan model pengembangan infrastruktur teknologi komunikasi sebagaimana direncanakan oleh pimpinan IAIN Sumatera Utara. Sedangkan tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui alasan pemanfaatan Internet oleh komunitas IAIN Sumatera Utara; pengetahuan mereka tentang Internet; tingkat frekwensi penggunaan Internet; jenis informasi yang dicari; cara penelusuran informasi; fasilitas penelusuran dan fasilitas komunikasi yang digunakan; pandangan mereka tentang pemanfaatan Internet untuk menyelesaikan tugas-tugas mereka; kendala yang dihadapi; serta harapan mereka tentang pemanfaatan internet di IAIN Sumatera Utara untuk masa yang akan datang. Pada akhirnya peneliti berharap karya ini bermanfaat bagi pimpinan IAIN sebagai landasan bagi penyediaan teknologi informasi; pengembangan wacana dalam disiplin ilmu informasi; bahan rujukan bagi penelitian lain; pengembangan program training dan pendidikan dalam bidang teknologi informasi.

Metode
Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif interaksionism simbolik yang ditawarkan oleh Blumer. Menurutnya pendekatan tersebut memandang permasalahan penelitian dari aspek meaning, language, dan thought. Instrumen pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah 1) Non-Participant observation, 2) semi-structured indepth interviews, 3) survey questionnaire dengan open-ended dan close-ended questions, 4) fotografi pada situs penelitian, dan 5) Statistik. Sedangkan proses penelitian melalui tahap-tahap grand tour pada situs penelitian, membaca literatur baik dari buku-buku yang diperoleh dari perpustakaan setempat maupun artikel dan hasil-hasil penelitian yang didownload dari internet, mengembangkan questionnaire, menyebarluaskan questionnaire, melakukan indepth interview, menganalisa data, mengkonfirmasikan lagi temuan sementara kepada informan, dan menyusun laporan.
Adapun subjek penelitian ini adalah: para pimpinan, dosen, staf administrasi dan mahasiswa. Untuk menentukan informan, peneliti menggunakan tehnik purposive sampling. Peneliti memulai pengumpulan data dari mereka yang selalu memanfaatkan Internet pada situs penelitian, baik dari kalangan mahasiswa, dosen, maupun pegawai administrasi. Untuk menjangkau informan yang lebih luas, peneliti juga menyebarluaskan angket ke fakultas-fakultas dan biro untuk mengantisipasi pemanfaatan internet diluar situs utama penelitian ini. Batasan istilah unsur-unsur komunitas IAIN-SU yang menjadi subjek penelitian ini diambil dari definisi yang termuat dalam Statuta IAIN Sumatera Utara Tahun 2002.
Pada penelitian ini peneliti menggunakan tehnik analisa data yang dikembangkan oleh Miles dan Huberman; proses analisa data berlangsung sebagai berikut: the analysis involves (1) selecting, focusing, simplifying, abstracting, and transforming the "raw" data which has been collected; (2) organizing and displaying the data so as to allow conclusions to be drawn; and (3) drawing conclusions, by noting regularities, patterns, explanations, possible configurations, causal flows and propositions, and verifying those conclusions. Catatan-catatan yang peneliti kumpulkan selama proses observasi dan wawancara berlangsung diberi kode. Proses pengkodean ini menggunakan software EZ-Text.
Uji keabsahan data dilakukan dengan mempertimbangkan aspek-aspek derajat kepercayaan (credibility), keteralihan (transferability), kebergantungan (dependability), dan kepastian (confirmability).

Penelitian Terdahulu
Beberapa penelitian yang relevan telah dilakukan oleh para peneliti lain dalam rangka melihat bagaimana teknologi Internet telah dimanfaatkan oleh masyarakat didalam institusi pendidikan maupun bisnis.
Dalam konteks pemanfaatan internet untuk pendidikan, Center for Research on Information Technology and Organizations The University of California, telah meneliti tentang frekwensi dan cara penggunaan Internet oleh guru dan siswa didalam kelas; nilai yang dipunyai guru dalam menggunakan Internet di kelas; variasi penggunaan Internet dan nilai yang diberikan oleh guru berdasarkan tingkat akses Internetnya. Masih dalam konteks yang sama, Kathryn Ray & Joan Day secara khusus meneliti tingkat penggunaan sumber-sumber informasi elektronik, apa yang mereka rasakan tentang berbagai masalah yang berhubungan dengan sumber-sumber elektronik, dan apakah perilaku mereka berubah dengan pemanfaatan sumber elektronik. Sementara itu hasil penelitian Renate Motschnig-Pitrik menemukan bahwa pengajaran yang menggunakan pendekatan Student-Centered (terpusat pada siswa) dalam perkuliahan Software Engineering telah menegaskan berbagai keuntungan dari pendekatan ini dengan pemanfaatan web, baik sebagai sumber pengetahuan dan sebagai sarana untuk mengatur dan menyebarluaskan dokumen. Untuk tingkat pendidikan Perguruan Tinggi, Hong, K.-S., et.al. telah melakukan penelitian tentang sikap mahasiswa terhadap penggunaan internet untuk belajar, dan menemukan bahwa secara umum mahasiswa di Universiti Malaysia Sarawak mempunyai sikap positif terhadap pembelajaran yang menggunakan Internet. Persepsi ini tidak didasarkan pada perbedaan ras atau gender. Tetapi menurut Yvonne Wærn dalam penelitiannya tentang etika pemanfaatan Internet sebagai instrumen penelitian, penelitian tentang komunikasi Internet jauh dari relevan dengan praktek komunikasi Internet yang sesungguhnya. Ia melandaskan argumennya pada adanya budaya bahasa yang berbeda di Internet, sementara penelitian sangat bias terhadap komunuikasi tertulis yang menggunakan bahasa Inggris dan Jerman.
Sementara itu, dalam konteks bisnis Walczuch, et.al. telah meneliti pemanfaatan internet pada bisnis-bisnis kecil di Netherland. Ia menemukan bahwa hambatan utama dalam penggunaan Internet dan pembuatan web semata-mata karena pendapat bahwa Internet atau situs web tidak akan meningkatkan efisiensi atau menurunkan biaya, dan adanya pendapat bahwa Internet atau situs web tidak cocok untuk bisnis tertentu. Menariknya, bisnis-bisnis kecil yang sudah membangun situs web dalam penelitian ini menyatakan bahwa salah satu manfaat situs web mereka adalah peningkatan penjualan.

Pemanfaatan Internet sebagai Sumber informasi
Matthew DeBell dari The Education Statistics Services Institute (ESSI) mengatakan bahwa penggunaan komputer dan Internet dapat meningkatkan kualitas hidup orang setiap hari dan meningkatkan prospek pasar kerja mereka. Karena teknologi ini mempunyai potensi meningkatkan akses kepada informasi, membantu menyelesaikan tugas lebih baik dan lebih cepat, dan sebagai media komunikasi. Tingkat penggunaan komputer dan Internet dapat dianggap sebagai indikator standar hidup. Disamping itu, penggunaan komputer juga akan membantu para pelajar memperoleh pengalaman dengan teknologi ini, dengan demikian tingkat penggunaan bisa mengindikasikan sejauh mana generasi pelajar sekarang siap untuk memasuki lapangan kerja dimana kemampuan untuk menggunakan komputer sangat dibutuhkan. Diantara berbagai tujuan orang memanfaatkan Internet antara lain:
• Berbagi data penelitian dan pekerjaan diantara rekan sejawat dan individu-individu dalam profesi yang sama
• Berkomunikasi dengan orang lain dan mengirim file melalui e-mail
• Meminta dan memberikan bantuan dengan mengajukan permasalahan dan pertanyaan
• Memasarkan dan mempublikasikan produk dan jasa
• Mengumpulkan umpan balik dan saran-saran dari para pelanggan dan rekan bisnis.
Dan sesungguhnya potensi pemanfaatan Internet semata-mata tergantung pada pandangan dan kreatifitas pengguna. Dan selama Internet terus berkembang, pemanfaatan baru dan inovasi pemanfaatan pasti akan terus berlanjut. Menurut Buxbaum memahami informasi berkaitan dengan keahlian teknologi informasi, tetapi memberikan pengaruh yang lebih luas kepada individu, sistem pendidikan, dan masyarakat. Keahlian teknologi informasi membuat seseorang dapat menggunakan komputer, aplikasi perangkat lunak, database, dan teknologi lain untuk mencapai berbagai tujuan akademis, pribadi, dan tujuan yang berkaitan dengan pekerjaan. Individu yang memiliki kemampuan memahami informasi perlu mengembangkan beberapa keahlian teknologi.
Penyediaan jaringan internet di perguruan tinggi adalah sebuah keharusan yang tidak bisa ditawar-tawar lagi sekarang ini. Oleh karenanya banyak lembaga-lembaga pendidikan tinggi yang beralih kepada pemanfaatan teknologi informasi ini sebagaimana yang dikatakan oleh Baer:
Institutions of higher education are turning to new communications and information technologies that promise to increase access, improve the quality of instruction, and (perhaps) control costs.

Sementara itu, DR. Shirley Raines, Presiden The University of Memphis menyarankan untuk menggunakan wireless untuk implementasi teknologi informasi tersebut,
"Students in the 21st century expect a 21st century education. And we truly believe investing in innovative uses of IT, such as wireless, is absolutely critical for the university"

Motschnig-Pitrik (2001) mengatakan bahwa pemanfaatan internet sebagai media pembelajaran dikenal dengan sebutan SCIAT (Student - Centered – Internet – Assisted Teaching). Menggunakan internet sebagai media pembelajaran berarti mengaplikasikan pendekatan yang berpusat pada peserta didik. Hal ini karena, secara optimal, para pendidik atau instruktur memberikan kemampuan menemukan bahan pelajaran secara bebas yang dianggap relevan untuk dipelajari, setelah berkonsultasi dengan fasilitator dan mendapatkan persetujuannya. Dalam SCIAT para peserta didik – dalam hal ini mahasiswa – didukung oleh instruktur, pada dasarnya menggunakan internet dengan dua cara.
Cara yang pertama adalah dengan memanfaatkan internet sebagai sumber pengetahuan pada saat mahasiswa mencari pengetahuan yang relevan. Oleh karena itu mereka perlu secara aktif bertanya pada diri sendiri materi apa yang berguna untuk memenuhi tugas-tugas mereka dan bagaimana memperolehnya, dokumen yang mana, jurnal, perpustakaan, buku, lembaga, yang mungkin memberikan informasi yang mereka butuhkan. Ketika sudah ditemukan, para mahasiswa perlu mengevaluasi sumber-sumber yang berkaitan dengan relevansinya dengan solusi yang mereka perlukan. Tidak perlu dikatakan, semua catatan perkuliahan dan daftar bacaan diberikan oleh instruktur dalam format yang bisa didownload.
Cara kedua pemanfaatan internet dalam SCIAT adalah sebagai tempat penyimpanan dokumen mahasiswa sekaligus menjadi media komunikasi untuk diskusi dengan teman-temannya dan dengan fasilitator. Dengan menggunakan situs web sebagai tempat penyimpanan pemecahan masalah yang bersifat parsial sangat membantu terutama dalam situasi dimana mahasiswa yang tergabung dalam tim kecil bisa bekerjasama dalam proyek yang sama. Hal ini karena setiap anggota tim bisa mengkonsultasikan dan mendiskusikan dokumen dengan rekan timnya dan juga dengan fasilitatornya. Dokumen yang sama selanjutnya dapat segera dipergunakan untuk presentasi pada perkuliahan tersebut yang diorganisir seperti laboratorium.
Untuk bisa memanfaatkan internet sebagai sumber informasi secara maksimal di Perguruan Tinggi, setiap individu harus menguasai keterampilan yang diperlukan untuk menelusur. Tetapi, sebagaimana dikatakan Brophy bahwa para pengguna seringkali tidak menghiraukan keterampilan yang diperlukan untuk menelusur sumber-sumber informasi ini, dengan menyatakan bahwa mereka sudah bisa menggunakan dengan mudah.

Pola Umum Pemanfaatan Internet oleh Komunitas Akademik IAIN Sumatera Utara
Setelah melakukan penelitian dan menganalisa data, penulis melihat ada pola-pola umum yang menjadi tema budaya pemanfaatan internet oleh pimpinan, dosen, mahasiswa dan staf IAIN Sumatera Utara. Untuk itu, uraian dibawah ini akan menarik ‘benang merah’ tentang pola umum pemanfaatan internet oleh unsur-unsur komunitas akademik IAIN Sumatera Utara tersebut.
Sebagaimana asumsi awal yang penulis ungkapkan pada bagian latar belakang diatas, bahwa pada dasarnya komunitas akademik IAIN Sumatera Utara telah ‘melek teknologi informasi,’ dan hasil temuan penelitian tersebut telah membuktikan asumsi ini. Mayoritas (98%) komunitas IAIN Sumatera Utara menyatakan bahwa pemanfaatan internet adalah untuk memenuhi kebutuhan informasi. Mereka menyadari bahwa internet merupakan sumber informasi global yang paling luas saat ini. Ia dijadikan rujukan informasi karena lebih cepat dan akurat. Pemanfaatan internet pada umumnya sebagai sumber informasi akademik, baik studi (80%), maupun penelitian (41%), tetapi sedikit yang memanfaatkan untuk mendukung pekerjaan (38%). Bahkan untuk kedua tujuan yang paling penting diatas, pada umumnya komunitas IAIN Sumatera Utara hanya mengandalkan search engine, baik Yahoo! atau Google, untuk menelusur informasi. Mereka belum mengetahui sumber informasi ilmiah elektronik lainnya, baik yang bisa diperoleh secara gratis seperti Directory of Open Access Journal yang berisi karya-karya hasil penelitian, atau Find Article yang memuat karya-karya lepas; maupun yang berbasis langganan seperti EbscoHost Master File Elite Database . Untuk yang terakhir disebutkan, sebenarnya telah tersedia di American Corner yang biaya langganannya dibayar oleh Kedutaan Amerika Serikat di Jakarta. Akses terhadap jurnal tersebut diberikan secara cuma-cuma kepada semua pengguna.
Masih sangat sedikit pimpinan yang memanfaatkan internet untuk menjalin dan mengembangkan kerjasama dengan institusi lain, berkomunikasi dengan stakeholder. Dan kalaupun mereka ’pernah’ memanfaatkan internet, itu hanya sebatas kebutuhan informasi untuk mendukung tugasnya sebagai dosen daripada pimpinan. Misalnya, mengakses internet untuk mencari artikel bagi penulisan makalah, buku, bahan ceramah atau bahan kuliah. Bahkan dalam hal menggunakan sarana komunikasi email, mereka pada umumnya tidak aktif menchek kecuali jika ada pihak lain yang memberi tahu melalui telepon atau SMS bahwa ia mengirim email kepada yang bersangkutan.
Demikian juga dengan dosen, tidak banyak yang memanfaatkan internet sebagai sumber bahan ajar, pengembangan metode pembelajaran, dan sumber rujukan penugasan kepada mahasiswa. Apalagi memanfaatkannya untuk mempublikasikan silabus, tugas perkuliahan, penilaian, dan karya ilmiahnya. Untuk yang terakhir ini, sekalipun ada ungkapan Publish or Perish, para dosen masih enggan memanfaatkan internet untuk mempublikasikan karya ilmiah mereka. Beberapa dosen mengungkapkan bahwa mempublikasikan karya ilmiah ke internet tidak mempunyai nilai kredit point bagi karir mereka, sebagaimana yang diungkapkan oleh NA. Whalley & True juga menyatakan hal yang sama, “Indeed, does an electronic version have priority over a printed version?”
Tetapi dalam pandangan peneliti, jika bisa memanfaatkan internet untuk mempublikasikan karya tulisnya, ia akan lebih dikenal oleh banyak orang, tidak terbatas pada mahasiswanya saja. Disamping membangun situs sendiri dengan memanfaatkan situs gratis seperti Geocities , para dosen selayaknya bisa memanfaatkan weblog untuk publikasi. Keduanya tersedia secara gratis di internet jika mau memanfaatkan. Lagi pula, walaupun tidak ada kredit point bagi karya ilmiah yang diterbitkan di internet, bukankah seorang penulis (dalam hal ini dosen) akan bangga jika hasil karyanya dibaca oleh orang lain? Keengganan untuk memanfaatkan internet sebagai media pulikasi menunjukkan tingkat pemanfaatan internet oleh komunitas IAIN Sumatera Utara baru pada taraf konsumen informasi daripada produsen informasi.
Pada umunya, pengetahuan komunitas IAIN-SU tentang istilah-istilah yang relevan dengan internet bergantung pada fasilitas yang sering digunakan mereka. Untuk istilah-istilah yang populer, pada umumnya mereka cukup mengenal dengan baik, walaupun tidak dapat mengungkapkan makna istilah tersebut, mereka bisa menunjukkan entitasnya, misalnya, email (90%) dan world wide web (70%). Dan untuk istilah-istilah yang cenderung lebih teknis, pada umumnya mereka kurang mengetahui, seperti istilah bandwidth, ftp dan server. Disamping itu, masih ada kebingungan dalam membedakan istilah keyword dan password. Beberapa orang ketika ditanya tentang penggunaan keyword untuk penelusuran informasi pada search engine, mereka menyatakan bahwa penggunaan keyword adalah untuk menjaga kerahasiaan pribadi. "kalau kita kunci orang lain tidak mudah membukanya" kata salah seorang responden.
Sekalipun mereka mengakui akses internet itu penting, pada kenyataannya frekwensi akses internet mereka masih tergolong rendah; rata-rata mereka mengalokasikan waktu sehari dalam seminggu (44%) dengan lama akses kurang dari 3 jam per hari (75%). Faktor biaya merupakan hambatan utama untuk mengakses internet secara maksimal. Sekalipun beberapa responden yang pada umumnya dari kelompok dosen mengaku mengakses internet antara 3 sampai 5 jam per hari (20%), mereka mengakui bahwa lamanya waktu tidak menjadi jaminan ditemukannya informasi yang diinginkan. Menurut mereka penyebab utamanya adalah keterbatasan mereka dalam bahasa Inggris yang merupakan kendala dalam menemukan informasi yang tepat sesuai dengan kebutuhan mereka. Sekalipun diatas telah disebutkan bahwa 70 persen materi internet menggunakan bahasa Inggris, tetapi penelusuran informasi dengan bahasa Indonesia juga mungkin dilakukan. Namun demikian, penelusuran dengan menggunakan bahasa Inggris akan memberikan peluang temuan yang lebih tepat dan lebih banyak. Disamping itu, kecerdasan memilih search engine untuk penelusuran informasi juga mempunyai andil dalam menentukan keberhasilan temuan. Bagaimana tidak, jika Yahoo merupakan pilihan favorit (89%) untuk menelusur informasi akademik atau ilmiah daripada Google, maka sudah bisa ditebak bahwa mereka akan menghadapi kesulitan menemukan informasi yang tepat (akurat). Karena Google sejauh ini masih merupakan search engine terbaik untuk penelusuran informasi demikian.
Penggunaan keyword dan Subject Directory sama-sama menjadi pilihan bagi para responden dalam menelusur informasi, masing-masing 62 dan 59 persen. Dan untuk ini, implikasi hasil temuan di lapangan menunjukkan bahwa secara otodidak dan pengalaman, mereka pada umumnya sudah dapat menentukan pilihan kapan menggunakan keyword dan kapan menggunakan Subject Directroy. Dengan keragaman bahasa yang mereka ungkapkan, mereka memilih menggunakan keyword karena langsung ke topik informasi tertentu yang diinginkan dan tidak menggunakan Subject Directory karena terlalu luas. Namun demikian, dalam penggunaan keyword atau kata konsep dalam penelusuran informasi pada umumnya mereka tidak memanfaatkan boolean operator (57%) maupun simbol-simbol (49%) karena tidak tahu bagaimana aplikasinya.
Dengan hanya memanfaatkan waktu 1 hari dalam seminggu kurang dari 3 jam, ditambah kurangnya ketrampilan penelusuran informasi, bagaimana mereka tidak menghadapi kendala penelusuran?
Ringkasnya, kendala-kendala yang dihadapi dalam penelusuran informasi antara lain:
1. Kurangnya ketrampilan memilih search engine yang tepat untuk penelusuran informasi ilmiah
2. Kurangnya ketrampilan menentukan kata yang akan menjadi konsep penelusuran
3. Tidak mengetahui tehnik-tehnik penelusuran informasi di internet agar efektif dan efisien.
4. Tidak mengetahui ketersediaan sarana informasi lain seperti database elektronik untuk jurnal-jurnal ilmiah yang hanya bisa diakses dengan memanfaatkan internet. Olehkarena itu, ketika informasi tertentu yang ditelusur menggunakan search engine tidak ditemukan, mereka tidak mencoba memanfaatkan fasilitas lain seperti jurnal elektronik tersebut.
Sayangnya, hanya kelompok mahasiswa yang terdorong merasa perlu meningkatkan ketrampilan penelusuran informasi di internet dengan mengikuti program pelatihan gratis yang diadakan oleh American Corner. Dan bila dilihat dari jumlah peserta yang masih dalam daftar tunggu (waiting list) untuk mengikuti program tersebut, tampak ada peningkatan animo mahasiswa untuk memanfaatkan internet sebagai sumber informasi ilmiah. Hal ini dibenarkan oleh Baer:
These undergraduates have high expectations for improving their computer skills and applying those skills directly in their course work. Their usage demands have brought some campus computer networks to their knees and forced administrators to ration Internet availability.
Dalam pemanfaatan fasilitas komunikasi, pada umumnya mereka menggunakan email (90%) untuk tujuan berbagi data pekerjaan (44%). Meski demikian, tidak semua fasilitas email bisa mereka manfaatkan dengan baik. “Attachment” atau Lampiran, misalnya, kebanyakan mereka tidak mengetahui fungsi fasilitas ini (56%). Beberapa dosen, mahasiswa, dan pimpinan bahkan harus terlebih dahulu meminta bantuan staf American Corner untuk membuat email, dan mengirimkan file melalui emailnya. Peneliti sendiri, selama masa penelitian ini, telah diminta oleh beberapa rekan dosen dan pimpinan, serta mahasiswa untuk mengirimkan file melalui email berupa tugas perkuliahan, makalah, materi ceramah, dan bahan tulisan untuk buku. Untuk itu, peneliti menggunakan attachment pada layar email mereka.
Fasilitas chating lebih banyak dimanfaatkan oleh mayoritas kalangan mahasiswa (51%) untuk tujuan berkenalan dengan orang lain (44%). Fasilitas komunikasi realtime ini sebenarnya sangat baik digunakan untuk berkomunikasi atau berbagi informasi dengan individu lain baik didalam maupun diluar kampus, rekan kerja atau sejawat, dosen, dan lain-lain. Namun karena tidak banyak para pimpinan, dosen dan staf yang mengetahui pemanfaatan fasilitas ini, ditambah lagi image bahwa fasilitas ini identik dengan kegiatan anak muda (atau Anak Baru Gede, ABG), maka pemanfaatan fasilitas ini dianggap membuang waktu dan kurang ‘formal’ untuk komunikasi.
Untuk informasi non-akademik, membaca berita merupakan pilihan terbesar (77%) bagi para responden diikuti dengan penelusuran informasi pribadi lainnya (67%).
Sekalipun pada umumnya mereka mengakui bahwa akses internet sangat penting bagi mereka (44%), keberadaan akses internet di IAIN Sumatera Utara masih mengalami banyak kendala, diantaranya:
1. Skill pemanfaatan internet yang masih rendah baik bagi kalangan mahasiswa, dosen, pimpinan maupun staf administrasi.
2. Keterbatasan jumlah unit komputer untuk akses internet. Kadang-kadang komputer yang ada digunakan juga untuk pengetikan makalah dengan menggunakan word processor.
3. Tidak tersedianya kamera (webcam) dan microphone untuk berkomunikasi realtime ketika memanfaatkan Chatting
4. Akses yang lambat dalam membuka situs web, apalagi untuk download dan upload file. Ketika mereka mendapatkan file dalam bentuk PDF, misalnya, seringkali mereka gagal mendownload file tersebut karena akses sangat lambat.
5. Lokasi yang tidak strategis, yaitu lantai tiga gedung perpustakaan. Dosen mengharapkan agar internet dapat diakses di semua tempat. Sedangkan para pimpinan dan staf administrasi mengharapkan agar tersedia koneksi internet di setiap ruang kantor atau meja pegawai.
6. Keterbatasan waktu buka perpustakaan menghambat akses pada jam istirahat siang. Bagi para mahsiswa, waktu tersebut adalah waktu luang mereka yang mereka gunakan untuk akses internet setelah mengikuti perkuliahan pada pagi hari. Bagi para dosen dan staff administrasi, waktu tersebut adalah waktu istirahat yang bisa mereka manfaatkan untuk akses internet. Tapi bagi kelompok yang terakhir ini, waktu diluar jam istirahat tersebut seringkali tidak memungkinkan mereka mengakses internet di kampus karena beban tugas yang cukup banyak.
7. Keterbatasan alat cetak (printer).
8. Kurang sosialisasi internet membuat sebagian besar komunitas IAIN masih belum mengenal kemanfaatan internet bagi proses pendidikan.
9. Kurang minat mahasiswa (MHS) karena tuntutan perkuliahan tidak menantang (DSN).
10. Biaya akses termasuk mahal dibandingkan dengan warnet yang ada di luar kampus.
11. Kurangnya penguasaan bahasa Inggris membuat mayoritas komunitas IAIN Sumatera Utara enggan memanfaatkan internet.
Sejalan dengan permasalahan diatas, mereka mengharapkan adanya pengembangan dan peningkatan pemanfaatan internet di IAIN Sumatera Utara sebagai berikut:
1. Adanya pelatihan keterampilan pemanfaatan internet bagi semua unsur komunitas IAIN Sumatera Utara agar fasilitas tersebut dapat dimanfaatkan secara maksimal. Jika perlu, bagi para dosen, dibuat pertemuan terjadwal untuk mendiskusikan tentang manfaat internet. Perlu juga disediakan buku-buku tentang pengenalan internet yang ditulis dalam bahasa Indonesia agar mudah dipahami oleh semua orang.
2. Menambah jumlah perangkat komputer dari yang sudah ada untuk akses internet.
3. Peningkatan kecepatan akses untuk menghemat waktu serta memudahkan mengambil (download) dan mengirim (upload) file dalam waktu yang relative singkat.
4. Pembangunan infrastruktur internet yang permanent dan penyediaan internet point pada lokasi yang lebih strategis, misalnya Lantai I Perpustakaan, di masing-masing fakultas, di ruang kantor, atau di meja kerja setiap pegawai IAIN Sumatera Utara, khususnya untuk para pimpinan.
5. Disediakan waktu luang bagi pegawai untuk mengakses internet, disamping perlu adanya kerjasama American Corner dan perpustakaan untuk membuka jam masuk perpustakaan pada jam istirahat.
6. Perlu adanya program sosialisasi dan promosi pemanfaatan internet bagi seluruh lapisan masyarakat akademik IAIN Sumatera Utara, termasuk penyebarluasan informasi yang akurat dan uptodate tentang apa yang tersedia di internet untuk di akses.
7. Memberikan biaya akses yang murah, bahkan jika perlu gratis. (Saat laporan ini ditulis, akses internet pada situs penelitian telah diberikan gratis untuk 1 jam per hari untuk semua pengguna American Corner sebagaimana telah diungkapkan diatas).
Sekalipun diatas dinyatakan bahwa animo terbesar untuk meningkatkan ketrampilan akses internet datang dari kelompok mahasiswa, jumlah mereka belum cukup representative terhadap jumlah mahasiswa IAIN secara keseluruhan, terutama mahasiswa S2 dan S3 yang belajar di Pasca Sarjana IAIN-SU, yang mayoritas merupakan dosen IAIN-SU. Hal ini menunjukkan adanya gejala ketidak perdulian (ignorance) terhadap sumber informasi di kalangan mereka. Bagaimana mahasiswa tingkat Pasca Sarjana tidak membutuhkan internet sebagai informasi untuk menyelesaikan tugas-tugas perkuliahannya? Apakah materi perkuliahan mereka masih terfokus pada textbook? Dan, apakah perpustakaan yang ada sudah memadai untuk memenuhi kebutuhan informasi mereka? Sekalipun hal-hal ini barangkali merupakan permasalahan baru yang lain, yang membutuhkan penelitian terpisah, namun gejala tersebut dalam pandangan penulis cukup ironis.
Gejala 'ketidak perdulian' itu, baik dari sebagian besar mahasiswa, dosen, staff administrasi, adalah disebabkan oleh tuntutan perkuliahan dan pekerjaan yang tidak menantang, sebagaimana yang dikemukakan oleh responden dari kelompok dosen dan staf administrasi sendiri. Dalam seminar hasil penelitian ini, KHT, mengatakan "kalau ada sistem yang mengharuskan dosen memanfaatkan internet, maka pasti tidak ada ignorance sebagaimana yang Ibu katakan." Penulis setuju bahwa sistem perlu diciptakan untuk memanfaatkan teknologi internet ini. Tetapi bukan berarti tidak ada sistem, dosen atau staf administrasi tidak bisa lebih kreatif memanfaatkan sumber informasi ini untuk membantu tugas-tugas utamanya; terutama bagi dosen, setidaknya bisa memberikan tugas mahasiswanya dengan memanfaatkan informasi dari internet. Tampaknya ada pola kepasifan dan monoton di kalangan komunitas IAIN-SU untuk memanfaatkan internet sebagai sumber belajar secara maksimal.
Sejalan dengan pernyataan tersebut diatas, secara umum penulis memandang bahwa rendahnya tingkat pemanfaatan internet sebagai sumber informasi di IAIN Sumatera Utara baik oleh mahasiswa, dosen, pimpinan dan staf administrasi adalah belum adanya sistem pemanfaatan teknologi yang dibangun yang ‘memaksa’ setiap orang yang terlibat dalam proses pendidikan secara luas untuk cakap memanfaatkan fasilitas tersebut. Pembangunan sistem teknologi itu membutuhkan komitmen dari para pengambil keputusan. Sebab, sekali sistem itu terbangun, tugas mengajar jadi lebih menantang bagi para dosen, mahasiswa terdidik secara mandiri menemukan sumber informasi bagi pemecahan masalah, tugas administrasi lebih mudah, sederhana dan cepat, dan para pimpinan setiap saat mempunyai sumber informasi bagi pengambilan keputusan dan komunikasi.
Namun demikian, baik pembangunan infrastruktur informasi maupun sistem bagi pemanfaatannya tidak bisa berjalan secara terpisah tanpa diiringi dengan pembangunan kapasitas sumber daya manusianya. Untuk itu program-program pelatihan keterampilan pemanfaatan internet juga harus dikembangkan secara simultan.

Model Pengembangan Sarana Internet di IAIN Sumatera Utara
Dari gambaran tentang pola umum pemanfaatan internet oleh komunitas IAIN Sumatera Utara diatas, hambatan-hambatan yang mereka hadapi dalam memanfaatkan internet, serta harapan mereka terhadap pengembangan fasilitas ini di IAIN Sumatera Utara di masa yang akan datang, maka pada bagian ini penulis menawarkan model pengembangan internet yang selayaknya dikembangkan di sebuah institusi Perguruan Tinggi.
IAIN Sumatera Utara sebagai sebuah institusi Pendidikan Tinggi sudah semestinya membangun infrastruktur teknologi komunikasi yang permanen. Tujuan utamanya adalah untuk meningkatkan akses informasi global bagi peningkatan mutu pendidikan, membangun jaringan kerjasama dengan institusi lain melalui sarana komunikasi, dan yang paling penting adalah untuk mengkontrol biaya pendidikan sebagaimana dikatakan oleh Baer diatas.
Selanjutnya, dalam sumber yang sama ia menawarkan dua model pemanfaatan internet di lembaga Pendidikan Tinggi yang bisa dikembangkan.
Pendekatan pertama adalah untuk meningkatkan bentuk dan struktur pembelajaran lembaga Pendidikan Tinggi yang selama ini berlangsung untuk mencapai model pembelajaran modern yang lebih baik, cepat, dan murah dalam mengembangkan materi perkuliahan dan kurikulum melalui media internet. Model ini menekankan pembangunan infrastruktur informasi didalam kampus yang memberikan (atau akan menyediakan) hubungan internet dengan kecepatan tinggi untuk semua mahasiswa, fakultas (termasuk dosen, pen.), pimpinan dan staff. Fakultas dapat memanfaatkan infrastruktur ini untuk meningkatkan dan melengkapi model pembelajaran tradisional dan program strata. Koleksi perpustakaan dapat didigitalisasi dan dapat diakses baik didalam maupun diluar kampus. Proses administrasi dapat dipercepat dan disederhanakan. Dan sekalipun fokusnya tetap merupakan proses pembelajaran didalam kampus, infrastruktur informasi baru ini dapat memfasilitasi pembelajaran jarak jauh untuk berbagai kategori mahasiswa yang non-tradisional dan berada diluar kampus. Sekalipun model pemanfaatan internet di lembaga Pendidikan Tinggi ini membutuhkan banyak perubahan peran dan fungsi mahasiswa, dosen dan pimpinan, ia memadukan (tidak memisahkan) struktur institusional dan peran fakultas yang ada.
Model lain yang lebih radikal memandang internet sebagai instrumen bagi perubahan proses dan struktur organisasi yang fundamental dalam proses belajar mengajar di Perguruan Tinggi. Menurut pandangan ini internet dapat mentransformasikan Pendidikan Tinggi kedalam proses belajar yang terpusat pada mahasiswa, bukan pembelajaran yang berpusat pada fakultas atau institusi. Pendekatan ini memungkinkan lembaga yang hidup dan berkembang – baik yang lama maupun yang baru – untuk beralih dari struktur akademik yang ada dan membangun hubungan langsung dengan mahasiswa Perguruan Tinggi. Disamping itu, ia juga memungkinkan pengembangan kesepakatan-kesepakatan antara lembaga akademik dan para pengusaha, dan memungkinkan kerjasama ini memperluas jangkauannya baik secara nasional maupun internasional. Infrastruktur ini juga memungkinkan mengakomodasi tuntutan mahasiswa terhadap pendidikan tinggi dengan cara yang baru yang pada dasarnya tidak bergantung pada kampus. Jika pasar Pendidikan Tinggi berkembang dengan cara ini, Internet akan jauh lebih merupakan tantangan bagi lembaga Pendidikan Tinggi yang ada saat ini daripada sekedar menjadikannya sebagai alat pendukung pembelajaran. Dan dalam hubungannya dengan ini, seorang konsultan manajemen dan komentator sosial, Peter Drucker, menyatakan, “Thirty years from now the big university campuses will be relics. . . . The college won’t survive as a residential institution.”
Kedua pola pengembangan akses internet di kampus diatas dapat dijadikan pedoman bagi IAIN Sumatera Utara sebagai sebuah lembaga Pendidikan Tinggi. Pilihan manapun yang akan diambil akan berdampak pada perubahan sistem operasional pendidikan secara umum yang melibatkan seluruh elemen masyarakat IAIN-SU: pimpinan, dosen, mahasiswa, dan staf. Oleh karenanya dibutuhkan persiapan mental dan skill yang memadai untuk dapat memanfaatkan teknologi ini secara maksimal bagi kegiatan pendidikan dan administrasi. Memutuskan untuk tidak memilih satu diantara kedua model yang ditawarkan tersebut, dan cenderung bertahan pada sistem tradisional (status quo), atau membatasi akses informasi hanya untuk kalangan tertentu saja, adalah sangat naïf bagi sebuah pendidikan tinggi.
Pada era kecanggihan teknologi seperti ini, sebuah perguruan tinggi seharusnya sudah tidak lagi dihadapkan pada pilihan apakah mengimplementasikan internet di kampus atau tidak; melainkan, apakah memilih menggunakan kabel atau wireless. Dan yang terakhir selalu menjadi pilihan karena kemanfaatannya yang lebih luas dan praktis. Doug Hurley, wakil Presiden IT dan CIO pada universitas Memphis menegaskan, "using wireless is a key technology advantage for the university because it overcomes the deal barriers of time and distance". Dengan berbagai kendala yang diungkapkan oleh para reseponden yang berhubungan dengan lokasi akses yang tidak strategis, waktu yang terbatas untuk akses, serta harapan mereka untuk menyediakan koneksi internet di setiap fakultas dan ruang kantor, maka penggunaan wireless sangat memungkinkan mengatasi kendala tersebut dan memenuhi harapan komunitas IAIN-SU. Bahkan lebih dari itu, penggunaan wirelessjuga memungkinkan menyediakan hotspot di area kampus, dimana bagi para dosen, pimpinan, atau mahasiswa yang mempunyai laptop sendiri yang dilengkapi dengan sarana jaringan nirkabel akan dapat mengakses internet dimana saja di area kampus.
Implementasi awal infrastruktur ini memang membutuhkan biaya yang tidak kecil, tetapi ketika sudah dijalankan, akan menghemat biaya operasional dan sumber daya manusia dalam melaksanakan tugas pelayanan pendidikan baik dalam bidang administrasi dan akademik, maupun proses belajar mengajar. Oleh karena itu adalah wajar membebankan biaya operasional infrastruktur ini kepada biaya kuliah mahasiswa sejauh adanya jaminan transparansi pemanfaatan uang kuliah tersebut dan peningkatan mutu pelayanan pendidikan. Untuk ini, ilustrasi berikut dapat dijadikan model.
John Hopkin University pada tahun 2001 memasuki tahap ke dua proyek pengembangan jaringan wireless yang sebelumnya melibatkan 40 orang mahasiswa, berkembang menjadi 500 orang mahasiswa. Dengan jaringan kabel, universitas tersebut akan membutuhkan biaya $10,000 per ruang kelas, belum termasuk kantin dan beberapa lokasi lainnya. Kemudian dengan melakukan perbandingan biaya (cost analysis) antara instalasi jaringan kabel dan nirkabel (wireless), diperoleh hasil bahwa untuk jaringan kabel dengan hanya 40 ruang kelas diperlukan total biaya $720,000, sedangkan untuk jaringan nirkabel diperlukan total biaya $210,000 sudah termasuk 40 ruang kelas, 2 kantin, 3 ruang makan, 6 ruang konferensi, dan 2 auditorium. Ini menunjukkan bahwa penggunaan jaringan nirkabel untuk internet lebih hemat biaya dan lebih luas jangkauannya.
Pada sumber yang sama juga digambarkan bahwa Buena Vista University di Storm Lake, Iowa, yang mempunyai mahasiswa lebih kurang 1,250 orang memberikan sebuah laptop yang dilengkapi modem nirkabel dengan harga $2,000 per laptop dan $650,000 untuk jaringannya. Tujuannya adalah:
• Memberikan akses internet yang cepat di mana saja didalam kampus
• Menyediakan fasilitas untuk meningkatkan frekwensi komunikasi mahasiswa kepada dosennya
• Kemudahan untuk mencari sumber-sumber informasi dimana saja dan kapan saja.
Untuk biaya wireless ini mahasiswa harus membayar $80 per semester atau $140 per tahun, selain biaya laptop dan printer dimana biaya tersebut dimasukkan dalam pembayaran uang kuliah.
Namun demikian, pembangunan infrastruktur tidak bisa berjalan sendirian tanpa pembangunan sistem. Untuk ini pimpinan harus menerapkan kebijakan-kebijakan yang menuntut setiap elemen komunitas IAIN-SU memanfaatkan internet dalam penyelesaian tugas utamanya masing-masing.
Untuk staf administrasi, perlu dibuat kebijakan untuk mengikuti training internet yang relevan dengan tugas-tugas administrasi akademiknya, misalnya membuat email dan menyimpan dokumen-dokumen kerjanya pada emailnya untuk digunakan lagi suatu saat nanti; mengirim dan menerima file melalui email kepada pihak lain; mendownload file-file yang relevan dengan keadministrasian dari internet, dan membuat formulir-formulir isian di internet untuk diisi oleh orang-orang yang membutuhkan formulir tersebut dan mengirimkan kembali kepada mereka secara online pula. Dengan demikian, tugas-tugas pengetikan akan berkurang, dan kecepatan kerja bisa ditingkatkan untuk menghasilkan kinerja yang lebih berkualitas dan akurat. Disamping itu, rekrutmen staf administrasi yang baru harus mensyaratkan keterampilan dalam pemanfaatan internet untuk tugas administrasi.
Untuk dosen, perlu diciptakan kebijakan yang mendorong para dosen mempublikasikan karyanya melalui media internet. Untuk ini, perlu ada kebijakan tentang adanya nilai tambah (added value) bagi hasil-hasil penelitian maupun karya lepas yang diterbitkan di internet. RKBM atau course plan yang diterbitkan di internet juga harus diberi nilai tambah. Selain penyediaan fasilitas laptop dan LCD projector, ruang-ruang kelas harus terjangkau oleh jaringan hotspot, sehingga proses belajar mengajar dapat memanfaatkan teknologi internet.
Untuk mahasiswa, perlu dibuat kebijakan agar mahasiswa wajib mengikuti kuliah internet non kredit pada masa orientasi mahasiswa. Sehingga ketika mereka menjalani perkuliahan, mereka sudah dapat memanfaatkan internet secara maksimal. Para dosen disarankan untuk memberi penugasan kepada mahasiswa dengan memanfaatkan internet.
Akhirnya, bagian ini secara ringkas merekomendasikan IAIN-SU 3 hal utama:
1. Pembangunan infrastruktur teknologi informasi dengan memilih salah satu model diatas secara wireless,
2. Membangun sistem kebijakan yang mendorong pemanfaatan teknologi informasi ini secara maksimal oleh seluruh elemen komunitas IAIN-SU. Sistem pembelajaran yang sekarang berlangsung perlu ditinjau ulang. Mahasiswa diberi peluang untuk belajar secara mandiri menemukan informasi. Materi perkuliahan harus beralih dari sistem textbook kepada pemanfaatan informasi yang lebih bervariasi dan mutakhir,
3. Pembangunan kapasitas manusia (capacity building) dengan mengembangkan program-program pelatihan pemanfaatan internet untuk semua unsur komunitas IAIN-SU.


DAFTAR PUSTAKA

Baer, Walter S., Will the Internet Transform Higher Education?, 1998. Didownload dari www.aspeninst.org/dir/polpro/CSP/IIS/98/98.html.

Bilsky, Carolyn, Beyond Basic Training: Educational opportunities boost office assistants, dalam CIRE Magazine, January and February, 2005. Didownload dari
http://www.ciremagazine.com/article.php?article_id=20

Bogdan, Robert dan Taylor, Steven J., Introduction to Qualitative Research Methods: a Phenomenological Approach to the Social Sciences, New York: John Wiley & Sons, 1975.

Bogdan, Robert, dan Taylor, Steven J., Kualitatif Dasar-Dasar Penelitian, terj. A. Khozin Afandi, Surabaya: Usaha Nasional, 1993

Bowen, Ted Smalley, English Could Snowball on Net, dalam The Latest Technology Research News, November 21, 2001. Didownload dari
http://www.trnmag.com/Stories/2001/112101/English_could_snowball_on_Net_112101.html

Brophy, P., Networking in British academic libraries. British Journal of Academic Librarianship, 1993, 8(1), 49-60

Buxbaum, Shari, Library Service: Perpustakaan Virtual untuk Kuliah Bisnis Sistem Jarak Jauh, Jakarta: Murai Kencana, 2004

Carey, James W., Wenzel2, Patrick H., Reilly, Cindy, Sheridan, John, dan Steinberg, Jill M., “CDC EZ-Text: Software for Management and Analysis of Semi-structured Qualitative Data Sets”, Cultural Anthropology Methods 10(1):14-20


Charp, Sylvia, Wireless Networks, THE Journal, January 2001 Didownload dari:
http://www.thejournal.com/the/printarticle/?id=15180

Denzin, N. K. & Lincoln, Y. S., Handbook of Qualitative Research. (2nd Ed) Thousand Oaks, CA: Sage Publications, 2000.

Departemen Agama RI, Statuta Institut Agama Islam Negeri Sumatera Utara Medan, 2002

Dutton, B.G., An introduction to end-user searching. In: Bysouth, P.T. (ed) End-user searching: the effective gateway to published information. London: Aslib, 1990, 1-18.

Gillmor, Dan, “Bloggers Breaking Ground in Communication”, dalam Global Issues: Media Emerging, eJournal USA, U.S. Department of State, Maret 2006

Kerins, G., Madden, R. & Fulton, C. "Information seeking and students studying for professional careers: the cases of engineering and law students in Ireland." Information Research, 2004, 10(1) paper 208. Didownload dari: http://InformationR.net/ir/10-1/paper208.html

Korpela, Jukka "Yucca, IT and communication, updated 2003. Didownload dari: http://www.cs.tut.fi/~jkorpela/lingua-franca.html

Memorandum of Understanding Between the Public Affairs Section of the U.S. Embassy Jakarta and the IAIN North Sumatera

Maxwell, Joseph A., Qualitative Research Design: an Interactive Approach, Thousand Oaks, CA: Sage Publication, 1996

Milliron, Mark David, “Enterprise Vision: Unleashing the Power of the Internet in the Education Enterprise”, THE Journal, Agustus 1999. Didownload dari:
http://www.thejournal.com/the/printarticle/?id=14182

Motschnig-Pitrik, Renate, Using the Internet with the Student-Centred Approach to teaching - Method and case-study, Department of Computer Science and Business Informatics, 2001. Didownload dari: http://www.pri.univie.ac.at/~renatem/rogers/StudCentr2001.doc

National Association of Independent Schools, Internet Use by Teachers: a Study of Fourth Through Twelfth Grade Classes, Didownload dari: http://www.nais.org/about/article.cfm? ItemNumber=145138
Nelson, Lindsey D., Herbert Blumer's Symbolic Interactionism, Boulder: University of Colorado, Spring 1998. Didownload dari: http://www.colorado.edu/communication/meta-discourses/Papers/App_Papers/Nelson.htm
Potter, W. J., An Analysis of Thinking and Research About Qualitative Methods. Mahwah, New Jersey: Lawrence Erlbaum Associates, Publishers, 1996
Ray, Kathryn dan Day, Joan, "Student attitudes towards electronic information resources." Information Research, 4(2), 1998. Didownload dari: http://informationr.net/ir/4-2/paper54.html
Reavis, Mark, The University of Memphis Upgrades Its Technology to Prepare for the Future, THE Journal, March 2004. Didownload dari: http://www.thejournal.com/the/printarticle/?id=16690

Setiarso, Bambang, Penerapan Teknologi Informasi dalam Sistem Dokumentasi dan Perpustakaan, Jakarta: Grasindo, 1997

Slama, Martin, Towards a New Autonomy: Internet Practices of Indonesian Youths, Makalah ini disajikan dalam bentuk yang agak berbeda pada Simposium Ketiga Jurnal ANTROPOLOGI INDONESIA “Rebuilding Indonesia, a Nation of ‘Unity in Diversity’: Towards a Multicultural Society”, Universitas Udayana,
Denpasar, Bali, 18 Juli 2002

Stueart, Robert D, dan Moran, Barbara B., Library and Information Center Management, 6th ed., Wesport, Connecticut: Libraries Unlimited, 2002

Tjokrodjojo, G. Hidayat, “Pemanfaatan TI Harus Dimulai dari Top Leader”, dalam Info Komputer, edisi Juni 2006

Trochim, William M.K., Qualitative Validity, 2006, Didownload dari: http://www.socialresearchmethods.net/kb/qualval.htm

United States Department of Labor, News Bureau of Labor Statistics, Washington, D.C., August 2, 2005. Didownload dari: http://www.bls.gov/cps

U.S. Department of Education, “Rates of Computer and Internet Use by Children in Nursery School and Students in Kindergarten through Twelfth Grade: 2003”, National Center for Education Statistics, Institute of Education Sciences NCES 2005–111rev

Wiggins, Richard W., The Internet for Everyone: a Guide for Users and Providers, New York: McGraw-Hill, Inc., 1994

1 Comments:

At 10:51 PM, Blogger marry said...

Blogs are so informative where we get lots of information on any topic. Nice job keep it up!!
_____________________________

Religion Dissertation

 

Post a Comment

<< Home